-->

Orang-orang Yang Di do'akan Oleh Para Malaikat...

Insya Allah berikut inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib

wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.

Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka

ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu". (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.

Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.

Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat

tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang - orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah" (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,"Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada

orang lain" (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Sumber Tulisan Oleh :

Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang -orang

yang Didoakan

Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir,

Sumber : http://almukjizat.blogspot.com/2009/03/orang-orang-yang-di-doakan-oleh-para.html

ReadMore......

RASULALLAH MENANGIS KETIKA DI PADANG MAHSYAR


Dari Usman bin Affan bin Dahaak bin Muzahim daripada Abbas ra, bapa saudara Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW telah bersabda, yang bermaksud: “Aku adalah orang (manusia) yang paling awal dibangkitkan dari kubur (bumi) pada hari kiamat yang tiada kebanggaan. Bagiku ada syafaat pada hari kiam...at yang tiada kemegahan. Bendera pujian di tanganku dan nabi-nabi keseluruhannya berada di bawah benderaku. Umatku adalah umat yang terbaik. Mereka adalah umat yang pertama dihisab sebelum umat yang lain. Ketika mereka bangkit dari kubur, mereka akan mengibas (membuang) tanah yang ada di atas kepala mereka. Mereka semua akan berkata: “Kami bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah dan kami bersaksi bahawa Muhammad itu Rasulullah. Inilah yang telah dijanjikan oleh Allah Taala serta dibenarkan oleh para rasul.”

Ibnu Abbas ra berkata: “Orang yang pertama dibangkitkan dari kubur di hari kiamat ialah Muhammad SAW. Jibril as akan datang kepadanya bersama seekor Buraq. Israfil pula datang dengan membawa bersama bendera dan mahkota. Izrail pula datang dengan membawa bersamanya pakaian-pakaian syurga.”
Jibril as akan menyeru: “Wahai dunia! Di mana kubur Muhammad SAW?”
Bumi akan berkata: “Sesungguhnya, Tuhanku telah menjadikan aku hancur. Telah hilang segala lingkaran, tanda dan gunung-ganangku. Aku tidak tahu dimana kubur Muhammad SAW.”
Rasulullah SAW bersabda: “Lalu diangkatkan tiang-tiang dari cahaya dari kubur Nabi Muhammad SAW ke awan langit. Maka, empat malaikat berada di atas kubur.”
Israfil bersuara: “Wahai roh yang baik! Kembalilah ke tubuh yang baik!”
Maka, kubur terbelah dua. Pada seruan yang kedua pula, kubur mula terbongkar. Pada seruan yang ketiga, ketika Rasulullah SAW berdiri, baginda SAW telah membuang tanah di atas kepala dan janggut baginda SAW. Baginda SAW melihat kanan dan kiri. Baginda SAW dapati, tiada lagi bangunan. Baginda SAW menangis sehingga mengalir air matanya ke pipi.
Jibril as berkata kepadanya: “Bangun wahai Muhammad! Sesungguhnya kamu di sisi Allah Taala di tempat yang luas.”
Baginda SAW bertanya, “Kekasihku Jibril! Hari apakah ini?”
Jibril as menjawab: “Wahai Muhammad! Janganlah kamu takut! Inilah hari kiamat. Inilah hari kerugian dan penyesalan. Inilah hari pembentangan Allah Taala.”
Baginda SAW bersabda: “Kekasihku Jibril! Gembirakanlah aku!”
Jibril as berkata: “Apakah yang kamu lihat di hadapanmu?”
Baginda SAW bersabda: “Bukan seperti itu pertanyaanku.”
Jibril as berkata: “Adakah kamu tidak melihat bendera kepujian yang terpacak di atasmu?”
Baginda SAW bersabda: “Bukan itu maksud pertanyaanku. Aku bertanya kepadamu akan umatku. Di mana perjanjian mereka?”
Jibril as berkata: “Demi keagungan Tuhanku! Tidak akan terbongkar oleh bumi daripada manusia, sebelummu?”
Baginda SAW bersabda: “Nescaya akan, kuatlah pertolongan pada hari ini. Aku akan mensyafaatkan umatku.”
Jibril as berkata kepada baginda SAW: “Tungganglah Buraq ini wahai Muhammad SAW dan pergilah ke hadapan Tuhanmu!”
Jibril as datang bersama Buraq ke arah Nabi Muhammad SAW. Buraq cuba meronta-ronta. Jibril as berkata kepadanya: “Wahai Buraq! Adakah kamu tidak malu dengan makhluk yang paling baik dicipta oleh Allah Taala? Sudahkah Allah Taala perintahkan kepadamu agar mentaatinya?”
Buraq berkata: “Aku tahu semua itu. Akan tetapi, aku ingin dia mensyafaatiku agar memasuki syurga sebelum dia menunggangku. Sesungguhnya, Allah Taala akan datang pada hari ini di dalam keadaan marah. Keadaan yang belum pernah terjadi sebelum ini.”
Baginda SAW bersabda kepada Buraq: “Ya! Sekiranya kamu berhajatkan syafaatku, nescaya aku memberi syafaat kepadamu.”
Setelah berpuas hati, Buraq membenarkan baginda SAW menunggangnya lalu dia melangkah. Setiap langkahan Buraq sejauh pandangan mata. Apabila Nabi Muhammad SAW berada di Baitul Maqdis di atas bumi dari perak yang putih, malaikat Israfil as menyeru: “Wahai tubuh-tubuh yang telah hancur, tulang-tulang yang telah reput, rambut-rambut yang bertaburan dan urat-urat yang terputus-putus! Bangkitlah kamu dari perut burung, dari perut binatang buas, dari dasar laut dan dari perut bumi ke perhimpunan Tuhan yang Maha Perkasa.
Roh-roh telah diletakkan di dalam tanduk atau sangkakala. Di dalamnya ada beberapa tingkat dengan bilangan roh makhluk. Setiap roh, akan didudukkan berada di dalam tingkat. Langit di atas bumi akan menurunkan hujan dari lautan kehidupan akan air yang sangat pekat seperti air mani lelaki. Daripadanya, terbinalah tulang-tulang. Urat-urat memanjang. Daging kulit dan bulu akan tumbuh. Sebahagian mereka akan kekal ke atas sebahagian tubuh tanpa roh.
Allah Taala berfirman: “Wahai Israfil! Tiup tanduk atau sangkakala tersebut dan hidupkan mereka dengan izinKu akan penghuni kubur. Sebahagian mereka adalah golongan yang gembira dan suka. Sebahagian dari mereka adalah golongan yang celaka dan derita.”
Malaikat Israfil as menjerit: “Wahai roh-roh yang telah hancur! Kembalilah kamu kepada tubuh-tubuh mu. Bangkitlah kamu untuk dikumpulkan di hadapan Tuhan semesta alam.”
Allah Taala berfirman:“Demi keagungan dan ketinggianKu! Aku kembalikan setiap roh pada tubuh-tubuhnya!”
Apabila roh-roh mendengar sumpah Allah Taala, roh-roh pun keluar untuk mencari jasad mereka. Maka, kembalilah roh pada jasadnya. Bumi pula terbongkar dan mengeluarkan jasad-jasad mereka. Apabila semuanya sedia, masing-masing melihat. Nabi SAW duduk di padang pasir Baitul Maqdis, melihat makhluk-makhluk. Mereka berdiri seperti belalang yang berterbangan. 70 umat berdiri. Umat Nabi Muhammad SAW merupakan satu umat (kumpulan). Nabi SAW berhenti memperhatikan ke arah mereka. Mereka seperti gelombang lautan.
Jibril as menyeru: “Wahai sekalian makhluk, datanglah kamu semua ke tempat perhimpunan yang telah disediakan oleh Allah Taala.”
Umat-umat datang di dalam keadaan satu-satu kumpulan. Setiap kali Nabi Muhammad SAW berjumpa satu umat, baginda SAW akan bertanya: “Di mana umatku?”
Jibril as berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu adalah umat yang terakhir.”
Apabila nabi Isa as datang, Jibril as menyeru: Tempatmu!” Maka nabi Isa as dan Jibril as menangis.
Nabi Muhammad SAW berkata: “Mengapa kamu berdua menangis.”
Jibril as berkata: “Bagaimana keadaan umatmu, Muhammad?”
Nabi Muhammad bertanya: “Di mana umatku?”
Jibril as berkata: “Mereka semua telah datang. Mereka berjalan lambat dan perlahan.”
Apabila mendengar cerita demikian, Nabi Muhammad SAW menangis lalu bertanya: “Wahai Jibril! Bagaimana keadaan umatku yang berbuat dosa?”
Jibril as berkata: “Lihatlah mereka wahai Muhammad SAW!”
Apabila Nabi Muhammad SAW melihat mereka, mereka gembira dan mengucapkan selawat kepada baginda SAW dengan apa yang telah Allah Taala muliakannya. Mereka gembira kerana dapat bertemu dengan baginda SAW. Baginda SAW juga gembira terhadap mereka. Nabi Muhammad SAW bertemu umatnya yang berdosa. Mereka menangis serta memikul beban di atas belakang mereka sambil menyeru: “Wahai Muhammad!”
Air mata mereka mengalir di pipi. Orang-orang zalim memikul kezaliman mereka. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Wahai umatku.” Mereka berkumpul di sisinya. Umat-umatnya menangis.
Ketika mereka di dalam keadaan demikian, terdengar dari arah Allah Taala seruan yang menyeru: “Di mana Jibril?”
Jibril as berkata: “Jibril di hadapan Allah, Tuhan semesta alam.”
Allah Taala berfirman di dalam keadaan Dia amat mengetahui sesuatu yang tersembunyi: “Di mana umat Muhammad SAW?”
Jibril as berkata: “Mereka adalah sebaik umat.”
Allah Taala berfirman: “Wahai Jibril! Katakanlah kepada kekasihKu Muhammad SAW bahawa umatnya akan datang untuk ditayangkan di hadapanKu.”
Jibril as kembali di dalam keadaan menangis lalu berkata: “Wahai Muhammad! Umatmu telah datang untuk ditayangkan kepada Allah Taala.”
Nabi Muhammad SAW berpaling ke arah umatnya lalu berkata: “Sesungguhnya kamu telah dipanggil untuk dihadapkan kepada Allah Taala.”
Orang-orang yang berdosa menangis kerana terkejut dan takut akan azab Allah Taala. Nabi Muhammad SAW memimpin mereka sebagaimana pengembala memimpin ternakannya menuju di hadapan Allah Taala. Allah Taala berfirman: “Wahai hambaKu! Dengarkanlah kamu baik-baik kepadaKu tuduhan apa-apa yang telah diperdengarkan bagi kamu dan kamu semua melakukan dosa!”
Hamba-hamba Allah Taala terdiam. Allah Taala berfirman: “Hari ini, Kami akan membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan. Hari ini, Aku akan memuliakan sesiapa yang mentaatiKu. Dan, Aku akan mengazab sesiapa yang menderhaka terhadapKu. Wahai Jibril! Pergi ke arah Malik, penjaga neraka! Katakanlah kepadanya, bawakan Jahanam!”
Jibril pergi berjumpa Malik, penjaga neraka lalu berkata: “Wahai Malik! Allah Taala telah memerintahkanmu agar membawa Jahanam.”
Malik bertanya: “Apakah hari ini?”
Jibril menjawab: “Hari ini adalah hari kiamat. Hari yang telah ditetapkan untuk membalas setiap jiwa dengan apa yang telah mereka usahakan.”
Malik berkata: “Wahai Jibril! Adakah Allah Taala telah mengumpulkan makhluk?”
Jibril menjawab: “Ya!”
Malik bertanya: “Di mana Muhammad dan umatnya?”
Jibril berkata: “Di hadapan Allah Taala!”
Malik bertanya lagi: “Bagaimana mereka mampu menahan kesabaran terhadap kepanasan nyalaan Jahanam apabila mereka melintasinya sedangkan mereka semua adalah umat yang lemah?”
Jibril berkata: “Aku tidak tahu!”
Malik menjerit ke arah neraka dengan sekali jeritan yang menggerunkan. Neraka berdiri di atas tiang-tiangnya. Neraka mempunyai tiang-tiang yang keras, kuat dan panjang. Api dinyalakan sehingga tiada kekal mata seorang dari makhluk melainkan bercucuran air mata mereka (semuanya menangis).
Air mata sudah terhenti manakala air mata darah manusia mengambil alih. Kanak-kanak mula beruban rambut. Ibu-ibu yang memikul anaknya mencampakkan mereka. Manusia kelihatan mabuk padahal mereka sebenarnya tidak mabuk.
Rasulullah SAW Membela Umatnya
Di padang mahsyar orang yang mula-mula berusaha ialah nabi Ibrahim as. Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: “TuhanKu dan Penguasaku! Aku adalah khalilMu Ibrahim. Kasihanilah kedudukanku pada hari ini! Aku tidak meminta kejayaan Ishak dan anakku pada hari ini.”
Allah Taala berfirman: “Wahai Ibrahim! Adakah kamu melihat Kekasih mengazab kekasihnya.”
Nabi Musa as datang. Baginda bergantung dengan asap Arsy yang naik lalu menyeru: “KalamMu. Aku tidak meminta kepadaMu melainkan diriku. Aku tidak meminta saudaraku Harun. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!”
Isa as datang di dalam keadaan menangis. Baginda bergantung dengan Arsy lalu menyeru: “Tuhanku… Penguasaku.. Penciptaku! Isa roh Allah. Aku tidak meminta melainkan diriku. Selamatkanlah aku dari kacau bilau Jahanam!”
Suara jeritan dan tangisan semakin kuat. Nabi Muhammad SAW menyeru: “Tuhanku.. Penguasaku Penghuluku…. !Aku tidak meminta untuk diriku. Sesungguhnya aku meminta untuk umatku dariMu!”
Ketika itu juga, neraka Jahanam berseru: “Siapakah yang memberi syafaat kepada umatnya?”
Neraka pula berseru: “Wahai Tuhanku… Penguasaku dan Penghuluku! Selamatkanlah Muhammad dan umatnya dari seksaannya! Selamatkanlah mereka dari kepanasanku, bara apiku, penyeksaanku dan azabku! Sesungguhnya mereka adalah umat yang lemah. Mereka tidak akan sabar dengan penyeksaan.”
Malaikat Zabaniah menolaknya sehingga terdampar di kiri Arsy. Neraka sujud di hadapan Tuhannya.
Allah Taala berfirman: “Di mana matahari?” Maka, matahari dibawa mengadap Allah Taala. Ia berhenti di hadapan Allah Taala.
Allah Taala berfirman kepadanya: “Kamu! Kamu telah memerintahkan hambaKu untuk sujud kepada kamu?”
Matahari menjawab. “Tuhanku! Maha Suci diriMu! Bagaimana aku harus memerintahkan mereka berbuat demikian sedangkan aku adalah hamba yang halus?”
Allah Taala berfirman: “Aku percaya!”
Allah Taala telah menambahkan cahaya dan kepanasannya sebanyak 70 kali ganda. Ia telah dihampirkan dengan kepala makhluk.”
Ibnu Abbas r.h. berkata: “Peluh manusia bertiti dan sehingga mereka berenang di dalamnya. Otak-otak kepala mereka menggeleggak seperti periuk yang sedang panas. Perut mereka menjadi seperti jalan yang sempit.
Air mata mengalir seperti air mengalir. Suara ratap umat-umat manusia semakin kuat.
Nabi Muhammad SAW lebih-lebih lagi sedih. Air matanya telah hilang dan kering dari pipinya. Sekali, baginda SAW sujud di hadapan Arsy dan sekali lagi, baginda SAW rukuk untuk memberi syafaat bagi umatnya.
Para Nabi melihat keluh kesah dan tangisannya. Mereka berkata: “Maha Suci Allah! Hamba yang paling dimuliakan Allah Taala ini begitu mengambil berat, hal keadaan umatnya.
Daripada Thabit Al-Bani, daripada Usman Am Nahari berkata: “Pada suatu hari Nabi SAW menemui Fatimah Az-Zahara’ r.h. Baginda SAW dapati, dia sedang menangis.”
Baginda SAW bersabda: “Permata hatiku! Apa yang menyebabkan dirimu menangis?”
Fatimah menjawab: “Aku teringat akan firman Allah Taala.”
“Dan, kami akan mehimpunkan, maka Kami tidak akan mengkhianati walau seorang daripada mereka.”
Lalu Nabi SAW pun menangis. Baginda SAW bersabda: “Wahai permata hatiku! Sesungguhnya, aku teringat akan hari yang terlalu dahsyat. Umatku telah dikumpulkan pada hari kiamat dikelilingi dengan perasaan dahaga dan telanjang. Mereka memikul dosa mereka di atas belakang mereka. Air mata mereka mengalir di pipi.”
Fatimah r.h. berkata: “Wahai bapaku! Apakah wanita tidak merasa malu terhadap lelaki?”
Baginda SAW menjawab: “Wahai Fatimah! Sesungguhnya, hari itu, setiap orang akan sibuk dengan untung nasib dirinya. Adapun aku telah mendengar Firman Allah Taala:” Bagi setiap orang dari mereka, di hari itu atau satu utusan yang melalaikan dia.( Abasa: 37)
Fatimah ra. bertanya: “Di mana aku hendak mendapatkanmu di hari kiamat nanti, wahai bapaku?”
Baginda SAW menjawab: “Kamu akan menjumpaiku di sebuah telaga ketika aku sedang memberi minum umatku.”
Fatimah r.h. bertanya lagi: “Sekiranya aku dapati kamu tiada di telaga?”
Baginda SAW bersabda: “Kamu akan menjumpaiku di atas Sirat sambil dikelilingi para Nabi. Aku akan menyeru: “Tuhan Kesejahteraan! Tuhan Kesejahteraan! Para malaikat akan menyambut: “Aamiin.”
Ketika itu juga, terdengar seruan dari arah Allah Taala lalu berfirman: “Nescaya akan mengikuti kata-katanya pada apa yang kamu sembah.”
Setiap umat akan berkumpul dengan sesuatu yang mereka sembah. Ketika itu juga, neraka Jahanam melebarkan tengkuknya lalu menangkap mereka sebagaimana burung mematuk kacang.
Apabila seruan dari tengah Arsy kedengaran, maka manusia yang menyembahNya datang beriring. Sebahagian daripada orang yang berdiri di situ berkata: “Kami adalah umat Muhammad SAW!”
Allah Taala berfirman kepada mereka: “Mengapa kamu tidak mengikuti orang yang kamu sembah?”
Mereka berkata: “Kami tidak menyembah melainkan Tuhan Kami. Dan, kami tidak menyembah selainNya.”
Mereka ditanya lagi: “Kami mengenali Tuhan kamu?”
Mereka menjawab: “Maha Suci diriNya! Tiada yang kami kenali selainNya.”
Apabila ahli neraka dimasukkan ke dalamnya untuk diazab, umat Muhammad SAW mendengar bunyi pukulan dan jeritan penghuni neraka. Lalu malaikat Zabaniah mencela mereka. Mereka berkata: “Marilah kita pergi meminta syafaat kepada Muhammad SAW!”
Manusia berpecah kepada tiga kumpulan.
1. Kumpulan orang tua yang menjerit-jerit.
2. Kumpulan pemuda.
3. Wanita yang bersendirian mengelilingi mimbar-mimbar.
Mimbar para Nabi didirikan di atas kawasan lapang ketika kiamat. Mereka semua berminat terhadap mimbar Nabi Muhammad SAW. Mimbar Nabi Muhammad SAW terletak berhampiran dengan tempat berlaku kiamat. Ia juga merupakan mimbar yang paling baik, besar dan cantik. Nabi adam as dan isterinya Hawa berada di bawah mimbar Nabi SAW.
Hawa melihat ke arah mereka lalu berkata: “Wahai Adam! Ramai dari zuriatmu dari umat Muhammad SAW serta cantik wajah mereka. Mereka menyeru: “Di mana Muhammad?”
Mereka berkata: “Kami adalah umat Muhammad SAW. Semua umat telah mengiringi apa yang mereka sembah. Hanya tinggal kami sahaja. Matahari di atas kepala kami. Ia telah membakar kami. Neraka pula, cahaya juga telah membakar kami. Timbangan semakin berat. Oleh itu tolonglah kami agar memohon kepada Allah Taala untuk menghisab kami dengan segera! Sama ada kami akan pergi ke syurga atau neraka.”
Nabi Adam as berkata: “Pergilah kamu dariku! Sesungguhnya aku sibuk dengan dosa-dosaku. Aku mendengar firman Allah Taala: Dan dosa Adam terhadap Tuhannya kerana lalai. Mereka pergi berjumpa nabi Nuh as yang telah berumur, umur yang panjang dan sangat sabar. Mereka menghampirinya. Apabila nabi Nuh as melihat mereka, dia berdiri.
Pengikut (umat Nabi Muhammad SAW) berkata: “Wahai datuk kami, Nuh! Tolonglah kami terhadap Tuhan kami agar Dia dapat memisahkan di antara kami dan mengutuskan kami dari ahli syurga ke syurga dan ahli neraka ke neraka.”
Nabi Nuh as berkata: “Sesungguhnya, aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah mendoakan agar kaumku dimusnahkan. Aku malu dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Ibrahim kekasih Allah Taala! Mintalah kepadanya agar menolong kamu!”
Nabi Ibrahim as berkata: “Sesungguhnya aku pernah berbohong di dalam usiaku sebanyak tiga pembohongan di dalam Islam. Aku takut dengan Tuhanku. Pergilah kamu berjumpa Musa as! Mintalah pertolongan darinya!”
Nabi Musa as berkata: “Aku sibuk dengan kesalahanku. Aku pernah membunuh seorang jiwa tanpa hak. Aku membunuhnya bukan dari kemahuanku sendiri. Aku dapati dia melampaui batas terhadap seorang lelaki Islam. Aku ingin memukulnya. Aku terperanjat kerana menyakitinya lalu menumbuk lelaki tersebut. Ia jatuh lalu mati. Aku takut terhadap tuntutan dosaku. Pergilah kamu berjumpa Isa as!”
Mereka pergi berjumpa nabi Isa a.s. Nabi Isa a.s. berkata: “Sesungguhnya Allah Taala telah melaknat orang-orang Kristian. Mereka telah mengambil aku, ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah Taala. Hari ini, aku malu untuk bertanya kepadaNya mengenai ibuku Mariam.”
Mariam, Asiah, Khadijah dan Fatimah Az-Zahra’ sedang duduk. Ketika Mariam melihat umat Nabi Muhammad SAW dia berkata: “Ini umat Nabi Muhammad SAW. Mereka telah sesat dari Nabi mereka.”
Suara Mariam, telah didengari oleh Nabi Muhammad SAW Nabi Adam a.s. berkata kepada nabi Muhammad SAW. “Ini umatmu, wahai Muhammad! Mereka berkeliling mencarimu untuk meminta syafaat kepada Allah Taala.”
Nabi Muhammad SAW menjerit dari atas mimbar lalu bersabda: “Marilah kepadaku, wahai umatku! Wahai sesiapa yang beriman dan tidak melihatku. Aku tidak pernah lari dari kamu melainkan aku sentiasa memohon kepada Allah Taala untukmu!”
Umat Nabi Muhammad SAW berkumpul di sisinya.
Terdengar suara seruan: “Wahai Adam! Ke marilah kepada Tuhanmu!” Nabi Adam as berkata: “Wahai Muhammad! Tuhanku telah memanggilku. Moga-moga Dia akan meminta kepadaku.”
Nabi Adam as pergi menemui Allah Taala. Allah Taala berfirman kepadanya: “Wahai Adam! Bangunlah dan hantarkan anak-anakmu ke neraka!”
Nabi Adam as bertanya: “Berapa ramai untukku kirimkan?”
Allah Taala berfirman: Setiap seribu lelaki kamu hantarkan seorang ke syurga, 999 orang ke neraka.”
Allah Taala berfirman lagi: “Wahai Adam! Sekiranya Aku tidak melaknat orang yang berdusta dan Aku haramkan pembohongan, nescaya Aku akan mengasihi anakmu keseluruhannya. Akan, tetapi, Aku telah janjikan syurga bagi orang yang mentaatiKu Neraka pula bagi orang yang menderhakaiKu Aku tidak akan memungkiri janji. Wahai Adam! Berhentilah di sisi Mizan (timbangan). Sesiapa yang mempunyai berat pada kebaikannya daripada dosanya walaupun seberat biji sawi, bawalah dia untuk memasuki syurga tanpa perlu berunding denganKu! Sesungguhnya Aku telah menjadikan bagi mereka, satu kejahatan dengan satu dosa. Manakala satu kebaikan dengan sepuluh pahala agar memberitahu mereka bahawa, sesungguhnya Aku tidak akan memasukkan mereka ke dalam neraka melainkan setiap yang kembali akan dikembalikan dengan dosa bagi orang yang melampaui batas.”
Nabi Adam as berkata: “Tuhanku! Penguasaku! Engkau lebih utama bagi menghisab berbanding aku. Hamba itu adalah hambaMu dan Engkau Maha Mengetahui sesuatu yang ghaib!”

Sumber : http://lukisanalamini.blogspot.com/2011/02/rasulullah-menangis-ketika-di-padang.html

ReadMore......

Percikan Mahabbah & Ma’rifat Allah


Allahumma inii as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka
(Ya Allah, aku memohon agar Engkau karuniakan cinta kepada-Mu, dan agar aku bisa mencintai orang-orang yang mencintai-Mu)
Ilahi anta maqshuudi wa ridhoka mathluubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka
(Tuhanku, Engkaulah yang kutuju dan ridho-Mu yang kuharapkan, beri daku kecintaan dan makrifat kepada-Mu)
“Nafas Ar-Rahman menjadikan semesta ini ada, guna memancarkan cinta dan apa-apa yang dilihat oleh Pencinta dalam Diri-Nya. Melalui penyaksian Yang Lahir, Dia mengenal Diri-Nya sendiri,” demikian tulis Syekh Al-Akbar dalam Futuhat Al-Makiyyah. Sifat Tuhan kepada alam, mikro maupun makro, adalah mencintai, sebab “Aku rindu untuk dikenal, maka Aku ciptakan semesta.” Cinta bagi hampir semua Sufi, adalah dasar dari penciptaan. Juga dikatakan oleh beliau bahwa Islam sepenuhnya adalah agama cinta, sebagaimana juga Rasul Muhammad adalah yang dikasihi Allah—habibillah. Cinta, kata Jalaluddin Rumi, adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan seluruh kekurangan diri. Dan hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri. Hanya mereka yang mencintai sepenuh hati sajalah yang mampu meniadakan diri (fana) di dalam Diri Sang Kekasih ALLAH
Cinta kepada Al untuk diri sendiri. Cinta Sufi adalah dalam rangka merespons hadis “Aku rindu untuk dikenal,” yakni seorang pencinta harus mengenal Allah sebagaimana Dia mengenal Diri-Nya sebagai Perbendaharaan Tersembunyi yang menyimpan segala Keindahan (jamal), Keagungan (jalal) dan Kesempurnaan (kamal). Tetapi, karena hanya Allah yang mengenal Allah, maka satu-satunya cara bagi Sufi adalah “bersatu” dengan Allah, mem-fana-kan sifat-sifat buruk dan bahkan kediriannya dan mengenakan sifat-sifat-Nya dalam ke-baqa-an, lalu menyaksikan bahwa segala sesuatu hanyalah Allah saja. Dengan cara inilah Sufi bisa “meminjam” perspektif” Allah dalam memandang Diri-Nya sendiri.
Jadinya, tanpa cinta, Perbendaharaan Tersembunyi akan selamanya tersembunyi. Tanpa cinta, tiada alam semesta. Tanpa cinta, tidak ada “persatuan” dengan Allah. Tetapi apakah sesungguhnya cinta (mahabbah) itu? Cinta menurut Sufi adalah salah satu maqam dalam perjalanan spiritual. Tetapi definisi yang pasti untuk soal ini amat sulit, jika tidak bisa dikatakan mustahil. Syekh Akbar Ibnu Al-Arabi dengan jelas mengatakan bahwa cinta tidak bisa didefinisikan:
Di kalangan orang-orang arif dan yang membicarakannya, cinta adalah sesuatu hal yang tidak bisa didefinisikan. Cinta diketahui oleh orang-orang yang mengalaminya … tanpa mengetahui (secara persis) apa sesungguhnya cinta itu, dan mereka tidak menyangkal eksistensi riilnya.
Sasaran cinta bagi Sufi adalah Perbendaharaan Tersembunyi dari Wujud Ilahi di setiap benda, sehingga seluruh dunia adalah pencinta sekaligus yang dicintai, dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Cinta ilahi adalah sumber semua cinta, sebab Cinta Ilahi ada di dalam Diri-Nya (Dzat-Nya) sendiri yang mencintai kita demi diri kita dan demi Diri-Nya sendiri. Artinya, di satu sisi, cinta-Nya kepada kita demi diri kita adalah lantaran agar kita bisa mengenal-Nya dari amal ibadah yang membawa kita kepada pemenuhan keinginan-Nya dan menjauhkan diri kita dari segala hal yang bertentangan dengan keinginan-Nya—atau kita mengenal-Nya melalui takwa. Di sisi lain, Dia mencintai kita demi Diri-Nya sendiri karena “Aku adalah Perbendaharaan Tersembunyi, aku rindu (cinta) untuk dikenal, maka Aku ciptakan dunia agar Aku bisa dikenal mereka sehingga mereka mengenal-Ku.” Jadi, kata Syekh Akbar Ibnu Al-Arabi, “Dia menciptakan kita hanya demi mencintai Diri-Nya sendiri, agar kita mengenal-Nya,” yakni mengenal Keindahan dan Keagungan-Nya melalui perspektif-Nya dan, di atas semua, di dalam Diri-Nya—melalui fana dari diri kita dan baqa dalam Diri-Nya.
Ini juga berarti dua hal lain yang relevan, yakni, pertama, bahwa dalam rangka mendapatkan perspektif dari Yang Dicintai, seorang pencinta harus memenuhi keinginan dan perintah dari Yang Dicintai. Inilah ujian dalam cinta—cinta selalu membutuhkan pengorbanan demi yang dicintai. Syariat, tata hukum ilahi, dalam arti yang sempit maupun luas, adalah ketentuan yang harus dipatuhi. Tanpa mematuhi perintah, tidak akan ada persatuan, sebab cinta sejati tidak boleh mengandung pembangkangan terhadap sang Kekasih. Atau dalam bahasa Sufi, tanpa (mematuhi) syariat, tidak akan muncul hakikat (cinta).
Dan kedua, secara batin seorang pencinta tidak boleh berpaling kepada sesuatu selain sang Kekasih atau segala sesuatu yang membuat seseorang lupa kepada-Nya. Karenanya, bahkan kesenangan dalam beribadah menjadi sesuatu yang riskan, sebab bisa membelokkan pandangan pencinta dari Sang Kekasih. Seseorang yang masih memperhatikan kesenangannya dalam beribadah berarti dalam dirinya masih tersimpan kesenangan pada dirinya sendiri, masih ada pamrih, dan karenanya belum merealisasikan ikrar lillahi ta’ala. Ini adalah tingkatan yang sulit, sebab kenikmatan dalam beribadah adalah sesuatu yang diperbolehkan dan diharapkan. Nikmat iman adalah sesuatu yang dipuji dan dicari oleh umat Islam. Tetapi bagi sufi, mengharap-harap kenikmatan iman dalam beribadah sama artinya mengharap sesuatu selain Diri-Nya, yang berarti pula masih menyimpan perspektif dari diri dan, karenanya, belum sepenuhnya lebur dalam perspektif ilahi seutuhnya. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam nasihatnya mengatakan agar kita beribadah demi Allah saja, jangan demi nikmat-Nya. Di sini terdapat andil nafsu yang samar dan berbahaya bagi Sufi.
Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari memperingatkan jebakan nafsu ini. Menurutnya, andil nafsu dalam maksiat bisa tampak jelas, tetapi andil nafsu dalam ketaatan sangat samar dan merusak keikhlasan beribadah. Karena itu kebanyakan Sufi lebih memilih situasi yang berat dan sempit (qabd) karena dalam kesempitan itu nafsu tidak punya tempat. Salah satu nasihatnya yang amat bagus adalah agar orang memilih amal yang terasa lebih berat bagi nafsunya. Dengan cara ini kita bisa mengetahui apa hakikat dari nafsu itu, dan apa bentuk tipu dayanya, baik tipu dayanya dalam hal kemaksiatan maupun tipu dayanya dalam ketakwaan. Secara bertahap sifat-sifat jahat dari nafsu ini akan kelihatan dan jika “musuh” ini sudah keluar dari persembunyiannya, akan lebih mudah bagi kita untuk menyerangnya. Ketika sifat-sifat jahat sudah dikalahkan, maka Allah akan mengaruniakan sifat-sifat-Nya kepada kita. Dalam analisis terakhir, taraf tertinggi adalah ketika seseorang menyadari bahwa bahkan keberadaannya sendiri adalah “dosa yang amat besar”. Menghilangkan dosa ini sama artinya meleburkan diri dalam fana, lalu baqa, dan akhirnya memandang keindahan dan keagungan-Nya. Pada titik ini cinta ilahi seorang Sufi tidak akan lagi tergoyahkan.
Maka, murid (yang menginginkan) menjadi murad (yang diinginkan), yakni Sufi menjadi lokus sempurna bagi Allah untuk melihat Diri-Nya sendiri. Dengan cara yang sama, yang mengingat menjadi yang diingat; yang mengetahui menjadi yang diketahui. Ini adalah tahap persatuan, tahap penyaksian sejati, atau pengetahuan sejati (makrifat). Jadinya, hubungan mahabbah dan makrifat adalah hubungan yang unik: timbal-balik sekaligus menyatukan, yang satu melahirkan yang lain.
Di satu sisi, ahli makrifat mengenal Allah sebagai Keindahan dan Keagungan, yang melahirkan mahabbah. Keindahan yang dikenal adalah Keindahan Dzat-Nya dan Keindahan Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya. Karena itu mereka merasakan keindahan dalam amal (ihsan), yakni seperti dikatakan Nabi kepada Jibril, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, bagaimanapun Dia melihatmu.” Yakni, melihat setiap kualitas positif dan indah dari Dzat-Nya yang termanifestasi dalam setiap lokus tajalli, mikrokosmos dan makrokosmos. Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi menulis:
Penyebab cinta adalah Keindahan (jamal) yang merupakan milik-Nya, karena Keindahan dicintai lantaran dirinya sendiri (keindahan itu sendiri). “Allah itu Mahaindah dan Dia mencintai Keindahan.” Jadi Dia mencintai Diri-Nya sendiri dan penyebabnya adalah tindakan memperindah (ihsan). Tidak ada tindakan memperindah kecuali dari Allah dan tidak ada yang menjadikan indah kecuali Allah. Jadi ketika aku mencintai tindakan (amal) keindahan, aku hanya mencintai Allah semata, karena Dialah yang menciptakan keindahan (Muhsin); dan ketika aku mencintai keindahan (itu sendiri) aku tak mencintai sesuatu pun selain Allah karena Dia adalah Yang Mahaindah (Jamil). Jadi dalam setiap aspek dihubungkan hanya kepada Allah.
Di sisi lain, cinta menyebabkan orang semakin ingin mengenal yang dicintainya. Cinta dalam tingkat tertentu melahirkan makrifat. Ketika sang pencinta makin mengenal Yang Dicintai, terbitlah isyq (rindu dan cinta membara). Inilah saat ketika ruh-ruh manusia yang pada dasarnya suci kembali ke kondisi kefitriannya, diselimuti oleh Keindahan dan Keagungan Ilahi, dan lebur dalam Kesempurnaan-Nya yang Serba Menyatukan (tauhid). Saat ini terjadi maka Allah akan mempertontonkan Keindahan-Nya (Jamal) kepada kesadaran terdalam sang Sufi, yang menyebabkannya Sufi “jatuh cinta” di mana seluruh perhatiannya hanya pada Yang Dicintai sehingga Dia tak lagi melihat kepada yang lain, bahkan kepada dirinya sendiri.
Sebagian Sufi yang tenggelam dalam cinta mendalam ini mengalami guncangan dahsyat hingga mencapai ekstase, mengucapkan syatahat yang menggemparkan: ana al-haqq (Akulah Kebenaran)!; la ilaha illa al-isyq (tiada tuhan selain Cinta); subhani maa adzama syaani (Mahasuci aku, alangkah besarnya keagungan-Ku)!; laisa jubbatin siwa Allah (Tiada yang ada dalam jubahku kecuali Allah)!; anna rabbakum fa’ buduunii (Akulah Tuhanmu, taatilah aku). Jadi, ketika “keakuan” Sufi keluar atau sirna (fana), maka “Ke-Aku-an” Tuhan yang abadi akan masuk sehingga “mengabadikan” sang Sufi (baqa) bahkan sebelum Sufi itu meninggalkan dunia, mereka telah merealisasikan perintah Nabi, mutu qabla an tamutu—”matilah engkau sebelum engkau mati.” Kematian berarti leburnya sifat-sifat seseorang dalam Sifat-sifat Tuhan. Karenanya ada pepatah Sufi mengatakan “Tiada kebaikan dalam cinta tanpa kematian.”
Ketika engkau jatuh cinta, kata sebagian sufi, engkau tidak boleh berpaling kepada selain Kekasih. Sang Kekasih akan cemburu jika cinta diduakan. Tuhan tidak akan memperkenankan apa pun berbagi dengan-Nya, karena hal itu adalah syirik. Jadi, “Tuhan adalah pencemburu,” kata Wali Allah yang agung, ratunya para pencinta Tuhan, Rabi’ah Al-Adawiyah. Menyembah-Nya demi surga atau lari dari neraka menandakan seseorang masih menduakan Tuhan, demikian pandangan Rabi’ah Al-Adawiyah. Dengan kata lain, orang yang beribadah demi surga berarti masih menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ia masih mengandaikan dirinya ada. Padahal, kata Al-Hallaj, “keberadaanmu adalah dosa yang tiada bandingannya.” Dan karenanya dia berdoa agar “aku” yang menghalanginya dari “Aku” dihilangkan oleh-Nya. Ia berseru dalam sajaknya:
Antara Aku dan Kau ada sebuah ‘Aku’ yang menyiksaku.
Ambillah, demi Aku Mu Sendiri, milikku diantara kita.
Bunuhlah aku, o sahabat-sahabatku yang terpercaya!
Karena dalam kematianku terdapat kehidupanku.
Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, mengisahkan cerita yang mengharukan mengenai “kematian” ini. Suatu ketika Nabi Ibrahim dipanggil oleh malaikat maut, namun beliau menolak mengikutinya, karena beliau tidak bisa mempercayai bahwa Tuhan akan membunuh seseorang yang begitu cinta kepada Nya. Tetapi malaikat mengatakan kepadanya; adakah orang mencintai menolak untuk pergi kepada kekasih¬nya? Setelah didengar kata kata itu, dengan rela beliau menyerahkan nyawanya kepada malaikat maut. Seperti dikatakan Schimmel
Pencinta yang sudah belajar menerima kematian sebagai jembatan kepada yang dicintai seharusnya menyerahkan ‘nyawanya dengan senyum seperti bunga mawar’ (Rumi); itulah sebabnya Al Hallaj menari nari dengan tangan terbelenggu ketika dibawa untuk dihukum mati. Kaum Sufi yakin akan firman Tuhan: Jangan sebut mati mereka yang terbunuh karena Tuhan; tidak, sesungguhnya mereka hidup (QS. 3:163). Kata la dalam bagian pertama syahadat yang diumpamakan pedang itulah yang membunuh sang pencinta; kemudian tak ada yang tinggal kecuali Tuhan.
Sulthan Al-Muhibbin Maulana Jalaluddin Rumi menggambarkan keadaan cinta yang menyatukan dengan cara lain yang tak kalah eloknya:
Seseorang mengetuk pintu kekasihnya;
sang kekasih bertanya, “siapakah itu?”
Ia menjawab “aku”.
“Pergilah,” kata kekasihnya. “Engkau terlalu cepat! Di mejaku tidak ada tempat untuk yang mentah. Bagaimana yang mentah akan masak kecuali dalam api ketidakhadiran?”
Ia pun pergi dengan sedih, dan api perpisahan membakarnya sampai habis. Lalu ia kembali dan mondar-mandir di depan pintu sang kekasih.
Ia mengetuk pintu dengan memendam seratus kecemasan dan harapan, agar jangan ada ucapan kasar dari bibir sang kekasih.
“Siapa itu?” tanya sang kekasih. Ia menjawab, “Engkau, wahai pemikat segala hati.”
“Masuklah,” kata sang kekasih, “karena engkau adalah aku, masuklah. Tidak ada tempat untuk dua ‘aku’ di rumah ini.”
Syekh Sulthan al-Awliya Abu Hasan as-Syadzili mengatakan, “Sempurnalah kewalian orang yang mencintai Allah dan mencintai untuk Allah.” Syekh Qamaruzzaman al-Husaini pernah mengatakan kepada penulis bahwa beliau mencapai kedudukannya hanya karena mahabbah, Cinta Ilahi, sehingga beliau bahkan tak bisa berhenti berzikir, sebab sedetik saja beliau berhenti berzikir, nafasnya akan sesak. Seseorang yang mencintai Allah hingga ke titik tertinggi akan bisa “bercakap” langsung dengan Allah azza wa jalla, tanpa huruf dan tanpa kata.
Menurut Syekh Athaillah, ada empat tingkatan cinta: cinta untuk Allah, cinta karena Allah, cinta dengan Allah dan cinta dari Allah. Awalnya adalah cinta untuk Allah dan akhirnya cinta dari Allah – murid (yang menginginkan) menjadi murad (yang diinginkan, seperti telah dijelaskan di atas dan di bab lain buku ini). Syekh Athaillah selanjutnya menjelaskan dalam Lathaif al-Minan:
Cinta untuk Allah adalah mengutamakan Allah ketimbang selain-Nya. Cinta karena Allah adalah mencintai Wali Allah karena Allah. Cinta dengan Allah adalah mencintai orang atau sesuatu tanpa hawa nafsu. Dan cinta dari Allah adalah Dia menarikmu dari segala sesuatu sehingga hanya Dia yang kau cintai … [Syekh Abu Hasan] menyatakan bahwa cinta adalah Allah menarik hamba-Nya dari segala sesuatu selain Dia. Ia akan selalu taat, akalnya dilindungi ma’rifat, ruhnya terserap ke dalam hadirat-Nya, dan sirr-Nya sibuk menyaksikan-Nya … Ia mendapatkan segala hakikat dan pengetahuan, dan karenanya “Para Wali Allah adalah pengantin Allah.”
Dalam cinta sejati tidak ada “engkau dan aku” karena menurut hadis Nabi dikatakan “Seseorang sama dengan yang dicintainya,” atau juga “orang yang mencintai selalu bersama yang dicintainya” (al-muhibb ma’a man ahabba), sebagaimana pengantin selalu bersama. Tiada perpisahan di sana, hanya ada persatuan sejati, Tauhid.
Wa Allahu a’lambi ash-shawab.
Tri Wibowo BS / Mbah Kanyut al-Jawi
Ikhwan TQN

Sumber : http://agama.kompasiana.com/2010/12/29/sedikit-tentang-mahabbah-marifat-allah/

ReadMore......

Akhlak seorang anak berumur 5 tahun merawat Ibunya yang lumpuh



Baru saja saya melihat Seputar Peristiwa Anteve. Tentang kisah seorang anak laki-laki yang harus merawat ibunya yang lumpuh seorang diri. Bocah itu bernama Aditya, umurnya masih 5 tahun pula.
Setiap hari ia melakukan semua pekerjaan rumah tangga layaknya orang dewasa, di sebuah rumah kontrakan di daerah Jombang, Jawa Timur. Mencuci, menyapu, mengepel, memasak, memandikan ibunya dan juga beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya. telah menjadi rutinitasnya setiap hari sejak dia berumur 3 tahun. Kadang memang ada tetangga yang membantu Aditya jika ia benar-benar tidak mampu untuk melakukan pekerjaan itu, misalnya memperbaiki listrik di rumah kontrakannya.
Sementara itu ayah Aditya sendiri dikabarkan pergi entah kemana setelah harta yang dimiliki ibunya hasil dari menjual rumah semakin menipis. Ibu Aditya terpaksa harus menjual rumah mereka untuk biaya pengobatan dan keperluan sehari-hari. Duh.. miris saya melihatnya. Ayah macam apa yang tega meninggalkan orang yang seharusnya menjadi tanggung-jawabnya dalam kondisi sakit pula.
Sebenarnya ibunya Aditya masih mempunyai keluarga di daerah Jember, Jawa Timur. Tapi hubungan mereka sekarang telah terputus akibat pernikahan ibunya Aditya dengan ayahnya yang tidak direstui oleh keluarga ibunya Aditya. Akibatnya sekarang, Aditya harus mengurus seorang diri ibunya yang sakit lumpuh sejak beberapa tahun lalu. Aditya harus kehilangan masa kecilnya, dimana seharusnya bocah seusianya masih sibuk-sibuknya bermain dengan teman sebaya. Aditya juga harus memupus jauh-jauh keinginannya, yaitu sekolah dan mengaji. Untuk kebanyakan orang keinginan seperti itu adalah keinginan yang sederhana. Tapi tidak bagi Aditya…jangankan untuk biaya sekolah, untuk keperluan sehari-hari saja sangatlah sulit.

Saya jadi ingat, beberapa waktu lalu juga ada seorang anak perempuan di daerah Polowali, Sulawesi. Umurnya tidak beda jauh dengan Aditya, yaitu 6 tahun. Anak perempuan itu bernama Sinar. Sinar juga terpaksa harus merawat ibunya yang juga lumpuh seorang diri. Bahkan waktu itu ketika ditayangkan di televisi, kisah Sinar sempat menyentuh hati seorang Charly ST 12, sehingga Charly pun sempat mengunjungi tempat dimana Sinar tinggal yang ternyata tidaklah mudah untuk dijangkau. Saat itu pun Charly juga menghadiahi sebuah lagu yang berjudul “Sinar Pahlawanku”, yang khusus diciptakan untuk Sinar.

Dan sekarang, setelah Sinar, ada Aditya! Besok siapa lagi??

ReadMore......