-->

Memburu Malam Lailatul Qadar

Sesungguhnya pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ada malam kemuliaan (lailatul qadar). Ini adalah malam yang memiliki keutamaan yang agung. Diantara keutamaannya:

1. Malam lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ * أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴾ [الدخان: 3 -5].

“ Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,(yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul” (Ad Dukhan : 3-5)

2. Malam lailatul qadar adalah malam mulia nan agung sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ﴾ [القدر: 1]

“ Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (Al Qadar:1)

Pada malam itu Allah menetapkan apa yang terjadi sepanjang tahun dan memutuskan segala perkara nya yang penuh hikmah.

3. Malam lailatul qadar adalah malam yang keutaman, kemuliaan, dan banyaknya kebaikan serta balasan pahala nya lebih baik dari seribu bulan sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ﴾ [القدر: 3]

“ malam lailatul qadar itu lebih baik dari seribu bulan” (Al Qadar:3)


4. Pada malam lailatul qadar para Malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi dengan membawa keberkahan, kebaikan, dan rahmat. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

﴿ تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا ﴾ [القدر: 4]

“ pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril” (Al Qadar : 4)

5. Malam lailatul qadar adalah malam keselamatan / kedamaian bagi orang-orang yang beriman dari segala hal yang mereka takutkan dikarenakan banyaknya pengampunan dosa dan pembebasan dari neraka.

﴿ سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴾ [القدر: 5]

“malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar” (Al Qadar : 5)

6. Malam lailatul qadar itu sebagaimana yang Rasulullah katakan:

( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )

“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharapkan pahala maka akan diampuni dosa nya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka siapapun orang yang menegakkan shalat (tarawih –pent.) dengan penuh keimanan kepada Allah serta mengharapkan balasan pahala dari Allah, ia akan memperoleh keutamaan sekalipun ia tidak mengetahuinya.

7. Malam lailatul qadar terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan (pada malam-malam ganjil). Maka disyari’atkan bagimu – wahai kaum muslimin- dalam mencari nya dan berupaya keras mendapatkannya. Rasulullah bersabda:

( تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ) رواه البخاري

“Carilah malam lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari)

8. Jika tiga malam pertama dari sepuluh hari terakhir terlewatkan olehmu atau karena tidak mampu, maka bersungguh-sungguhlah pada tujuh hari yang tersisa. Rasulullah bersabda:

( الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي ) رواه مسلم

“Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir. jika salah seorang di antara kalian tidak mampu atau lemah maka jangan sampai terluput dari tujuh hari sisanya” (HR. Muslim)

8. Berupayalah dengan sungguh-sungguh dalam mencari malam lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan lebih bersungguh-sungguh lagi pada tujuh malam terakhir. Rasulullah berkata kepada seorang sahabat yang bermimpi melihat malam lailatul qadar pada tujuh malam terakhir:

( أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ ) رواه الشيخان

“Aku melihat mimpi kalian. Mimpi kalian tepat pada tujuh malam terakhir. Barang siapa yang ingin mencarinya, maka carilah pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan.” (H.R. Muslim)

9. Carilah malam lailatul qadar pada malam kedua puluh lima, kedua puluh tujuh, dan kedua puluh sembilan. Sungguh telah bersabda Rasulullah :

( الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى ) رواه البخاري

“Carilah malam lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Pada malam kedua puluh Sembilan, keduapuluh tujuh, kedua puluh lima”. (HR. Bukhari)

10. Dari tujuh malam terakhir bulan Ramadhan yang paling mendekati adalah malam kedua puluh tujuh, maka bersungguh-sungguhlah pada malam ini. Sungguh Ubay bin Ka’ab telah berkata:

( وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ ع بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ ) رواه مسلم

“Demi Allah aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang kita diperintah Rasulullah untuk menghidupkannya, yaitu malam kedua puluh tujuh” (HR. Muslim)

11. Perbanyaklah membaca doa ini pada malam-malam pencarian lailatul qadar:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

“Ya Allah.. Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf.. Engkau senang memaafkan.. Maku ampunilah aku..”

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi :

( أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي ) رواه الترمذي وابن ماجة (صحيح)

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda kalau saya mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang saya ucapkan ketika itu? beliau menjawab: “Katakanlah, Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, Shahih)

12. Tanda-tanda malam lailatul qadar disebutkan dalam hadits Ubay, Rasulullah bersabda:

( وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا ) رواه مسلم

“Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Juga dalam riwayat Abu daud:

( تُصْبِحُ الشَّمْسُ صَبِيحَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةِ مِثْلَ الطَّسْتِ لَيْسَ لَهَا شُعَاعٌ حَتَّى تَرْتَفِعَ ) (صحيح)

”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (shahih)

Diambil dari pelajaran keduapuluh dari kitab Durus Syahri Ramadhan oleh Muhammad bin Syami Syaibah. Dialihbahasakan oleh Abu Razin Al Batawy

Sumber : arabic.web.id

ReadMore......

Puasa Syariat, Thoriqoh dan Hakikat

Syeikh Abdul Qodir Al-Jilany ( Dalam Kitab Sirrul Asror )

Puasa Syariat adalah menahan diri dari makan dan minum, dan dari berhubungan suami isteri di siang hari. Sedangkan Puasa Thoriqoh itu, mengekang seluruh tubuhnya dari hal-hal yang diharamkan, dilarang dan dicela, seperti ujub, takabur, bakhil dan sebagainya secara lahir maupun batin. Karena semua itu bisa membatalkan puasa thoriqoh.

Puasa syariat itu ada batas waktunya. Sedeangkan Puasa thoriqoh senantiasa abadi tak terbatas seumur hidupnya. Itulah yang disabdakan oleh Rasulullah saw:
“Betapa banyak orang berpuasa tetapi puasanya tidak lebih melainkan hanya rasa lapar…” (Hr. Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Karena itu disebutkan, betapa banyak orang berpuasa tetapi ia justru berbuka, dan betapa banyak orang yang berbuka (tidak puasa) namun ia berpuasa. Yakni menahan anggota badannya dari dosa-dosa, menahan diri dari menyakiti manusia secara fisik, seperti firman Allah Ta’ala dalam hadits Qudsy:
“Puasa itu untuk Ku dan Aku sendiri yang membalas pahala puasa.” (Hr. Bukhori)
“Bagi orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan: kegembiraan ketika berbuka, dan kegembiraan ketika memandang Keindahan Ku.”

Bagi Ulama syariat dimaksud dengan berbuka adalah makan ketika matahari maghrib, dan melihat bulan  di malam Idul Fitri. Sedangkan ahli thoriqoh menegaskan bahwa berbuka itu akan diraih ketika masuk syurga dengan memakan kenikmatan syurga, dan kegembiraan ketika memandang Allah swt. Yaitu ketika bertemu dengan Allah Ta’ala di hari qiyamat nanti, dengan pandangan rahasia batin secara nyata.
Sedangkan Puasa Hakikat adalah puasa menahan hati paling dalam dari segala hal selain Allah Ta’ala, menahan rahasia batin (sirr) dari mencintai memandang selain Allah Ta’ala seperti disampaikan dalam hadits Qudsy:
“Manusia itu rahasiaKu dan Aku rahasianya.”
Rahasia itu bermula dari Nurnya Allah swt, hingga ia tidak berpaling selain Allah Ta’ala. Selain Allah Ta’ala, tidak ada yang dicintai atau disukai dan tak ada yang dicari baik di dunia maupun di akhirat.
Bila terjadi rasa cinta kepada selain Allah gugurlah puasa hakikatnya. Ia harus segera mengqodho puasanya, yaitu dengan cara kembali kepada Allah swt dan bertemu denganNya. Sebab balasan Puasa Hakikat adalah bertemu Allah Ta’ala di akhirat.
Sumber : Sufinews.com

ReadMore......

Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?





Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahawa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?

Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahawa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.


JAWABAN :

Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surah. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeza-beza itu pasti memiliki dimensi yang berbeza pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeza-beza antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan getaran dan darjat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeza. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeza dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu bererti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat neraka tertentu.

Jika Naar kita maknakan secara umum, justeru menjadi zalim, kerana faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak boleh disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeza dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surah Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeza. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, kerana didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeza. Kerana yang terakhir ini berhubungan dengan kelayakan keimanan hamba kepada Allah, bahawa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahawa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kelayakan keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Roh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fizik dan siksa fizik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kelayakannya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.

Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga mahupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, kerana perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualiti moral seorang pekerja di tempat kerja juga berbeza-beza, walau pun teknik dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari wang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan mencintai pekerjaan dan mencintai ketuanya tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualiti moral dan jadual kerjanya yang berbeza. Bagi seorang ketua yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, dibandingkan dengan para pekerja yang hanya mencari untung belaka, sehingga mereka bekerja tanpa roh dan spirit yang luhur.

Kerana itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kelayakan rohani dan spiritual yang berbeza dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeza dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan biologi seksual haiwan.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan darjat kema’rifatan yang berbeza-beza. Kerana nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fizik dengan kenikmatan fizik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang boleh menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam proses kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan simbol berbeza-beza, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kelayakan yang bersifat lahiriyah mahupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka persepsi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu haiwaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang ideal dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang boleh menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kelayakan syurgawnya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Kerana hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “kerana Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira kerana syurgaNya.

Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang boleh wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?
Nah anda boleh merenungkan sendiri, betapa tundingan-tundingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, boleh terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

Sumber : Jalansufi.com


ReadMore......

Sejarah Sufi





Banyak sekali kajian sejarah mengenai Tasawuf atau Sufi. Ada sejumlah pendekatan yang dilakukan untuk menganalisa lintasan sejarah Tasawuf atau Thariqat Tasawuf, antara lain:

   1. Kajian terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang berkaitan dengan dimensi Sufistik.
   2. Kajian terhadap profil para tokoh Sufi dengan pemikiran, pandangan, tindakan dan karya-karyanya.
   3. Kajian falsafah dibalik ungkapan Sufistiknya.
   4. Kajian praktik Sufistik dan Thariqatnya dari masa ke masa.
   5. Kisah-kisah Sufi.

Sebagaimana diketahui Islam lahir dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. dengan doktrin-doktrin keagamaan,bersifat lahiriyah mahupun batiniyah. Kedua doktrin tersebut bermuara pada satu titik, yang disebut dengan Titik Tauhid. Iaitu mengEsakan Allah swt. baik dalam keyakinan mahupun amaliyah ummat manusia. Oleh sebab itu, kelak akan muncul sejumlah istilah atau terminologi dalam ilmu-ilmu Islam sebagai pendekatan lain dari pemahaman amaliyah Islam itu sendiri.

Unsur-unsur Tauhid (teologi) dalam tradisi sejarah Islam, lebih banyak pendapat ketika Rasulullah Muhammad saw, berada di Makkah, baru ketika hijrah ke Madinah sejumlah doktrin tentang amaliyah yang kelak disebut dengan doktrin Syari’at diturunkan. Lebih jauh tentang kajian sejarah berpendapat doktrin keagamaan antara masa Makkah dan Madinah ini, boleh dilihat dari beberapa kitab tentang Asbabun Nuzul, iaitu kajian tentang sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an, dan Asbabul Wurud, berkait dengan sebab-sebab munculnya hadits Nabi saw.

Sementara itu, fungsi-fungsi hadits Nabi antara lain menjelaskan praktik Al-Qur’an, — dan kerananya kedudukan Hadits juga setara dengan Wahyu – lebih banyak memberikan petunjuk yang bersifat sejarah, iaitu kepentingan-kepentingan zaman saat itu, walaupun, kedua sumber agama itu tetap bersifat universal dan sejarah. Apalagi ketika, sumber-sumber tersebut dibuat telah seputar dunia esoteris, maka fungsi-fungsi sejarah hanya sebagai pelengkap belaka, selebihnya justru elemen-elemen fundamental akan muncul sebagai landasan pandangannya.

Seluruh ummat Islam pada masa Rasulullah saw, baik ketika di Makkah mahupun di Madinah, sama sekali tidak memunculkan potensi-potensi konflik, apalagi muncul suatu kontradiksi , baik dari segi pemahaman keagamaan mahupun ritual keagamaan, bahkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Hal demikian kerana ummat Islam terikat suatu kesepakatan terhadap kedua sumber utama praktik ibadah mereka, sementara Rasul Muhammad saw, menjadi rujukan utama setiap masalah, sekaligus menjadi hakim atas semua persoalan yang muncul.

Tetapi perbezaan mulai muncul, terutama dalam soal pandangan yang bersifat publik, iaitu mengenai Khilafah paska Rasulullah saw, sepeninggal beliau. Perbezaan pandangan ini memuncak ketika masa Khalifah Utsman bin Affan – ra, dan Ali bin Abi Thalib – semoga Allah memuliakan wajahnya –. Kelak perbezaan ini turut mewarnai munculnya paksi-paksi dalam praktik Islam, dan turut memberikan warna terhadap sejarah perkembangan Tasawuf itu sendiri, yang beriringan dengan dinamika sejarah Teologi dan mazhab-mazhab fiqih.

Istilah-istilah yang menjadi terminologi dalam Tasawuf, juga tidak pernah terekam, secara akademis dalam sejarah masa Islam awal. Bahkan di zaman Nabi kata Sufi, kata Syari’at, Hakikat, atau pun Thariqat, tidak dimunculkan sebagai istilah tersendiri dalam praktik keagamaan. Semata, kerana para Sahabat dan Tabi’in, adalah sekaligus para pelaku Syari’at, Thariqat dan Hakikat, dalam hariannya. Hanya satu setengah abad kemudian, istilah-istilah itu muncul dengan terminologi tersendiri, dalam kerangka memudahkan praktik ke-Islaman yang sebenarnya.
Untuk melihat sejarah Tasawuf, definisi seputar Tasawuf dari para pelaku serta tokoh-tokohnya sangat membantu alur sejarah itu hingga dewasa ini. Pada zaman Nabi saw. kita mengenal istilah yang sangat komprehensif mengenai dunia esoteris, yang disebut dengan Al-Ihsan. Dalam riwayat Al-Bukhari, disebutkan oleh Rasulullah saw, dalam sabdanya:
“Hendaknya engkau menyembah kepada Allah seaakan-akan engkau melihatNya, maka apabila engkau tidak melihatNya sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.r. Bukhari)

Istilah Al-Ihsan tersebut, dalam praktiknya, memunculkan tradisi agung dalam Islam, iaitu amaliyah batin yang kekal membangunkan suatu akademi esoteris yang luar biasa. “Seakan-akan melihat Allah dan Allah melihatnya,” adalah puncak dari prestasi moral seorang hamba Allah disaat sang hamba berhubungan denganNya.

Proses-proses berhubungan itulah yang kemudian diatur dalam praktik Tasawuf. Kerana dalam setiap tradisi Thariqat Tasawuf yang memiliki sanad sampai kepada Rasulullah saw. – kelak disebut dengan Thariqat Mu’tabarah – menunjukkan bahawa tradisi Sufistik sudah berlangsung sejak zaman Rasulullah saw. Hanya saja tradisi tersebut tidak terpublikasi secara massif mengingat dunia esoteris adalah dunia spesifik, dimana tidak semua khalayak menerimanya.

Doktrin-doktrin Zikir dan pelaksanaannya yang dilakukan melalui Baiat pada Rasulullah saw. menggambarkan hubungan-hubungan saikologi antara Rasul saw. ketika itu dengan sahabat dan Allah swt.

Di lain pihak, tradisi akademi Tasawuf nantinya melahirkan produk-produk penafsiran esoterik atau metafisik, terhadap khazanah Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Selain Al-Qur’an secara khusus punya penekanan terhadap soal-soal Tasawuf, ternyata seluruh kandungan Al-Qu’ran juga mengandung dimensi batin yang sangat unik. Jadi tidak ada alasan sama sekali untuk menolak Tasawuf, hanya kerana beralasan bahawa Tasawuf tidak ada dalam Al-Qur’an. Padahal seluruh kandungan Al-Qur’an tersebut mengandung dua hal: zahir dan batin, syari’at dan hakikat.

Prof. Dr. Said Aqiel Siradj mencatat bahawa istilah Tasawuf, kebanyakan rujukan menyebutkan muncul dari Ma’rif al-Karkhy (w. 200). Namun Said Aqil cenderung berpihak pada Abu Abdillah (Abu Musa) Jabir bin Hayyan bin Abdillah al-Kufi al-Azdy (w. 161 H.) salah satu murid dari Ja’far ash-Shadiq yang terkenal dengan temuannya, Aljabar. Jabir bin Hayyan inilah yag pertama kali mendapat gelar sebagai Sufi, kerana sebagai seorang ilmuwan matematik dan kimia, Jabir justru memasuki dunia Sufi dengan segala penemuannya.

Kesadaran Jabir bin Hayyan memasuki dunia Sufi bermula dari aksioma Dhomir (kata ganti): Ana (aku, orang pertama), Huwa (dia, orang ketiga) dan Anta (kamu, orang kedua). Ketiga kata ganti tersebut boleh melekat pada satu orang, semisal Ahmad. Ketika ia menyebut dirinya pasti menggunakan kata ganti Ana, jika ia tidak ada ditempat maka ia disebut dengan Dia, sementara ketika ia ada di hadapan Anda, maka Anda menyebutnya Anta. Lalau kemana larinya Ana, Anta, Huwa, setelah Ahmad meninggal dunia? Jabir menyimpulkan bahawa semua dlomir yang yang disandang itu kembali kepada Yang berhak mempunyai Ana, Anta dan Huwa, iaitu Allah swt.

Baru pada abad ketiga hijriyah dinamika tasawuf baru pada taraf Tasawuf Sunni (akhlaqy). Baru kemudian menurut Said Aqil, berkembang Tasawuf Falsafi sebagaimana digaungkan oleh Abu Yazid al-Bistamy (w.261H.), disusul Abu Mansur Al-Hallaj (w.309) masing-masing dengan teori Al-fana’ dan Anal Haq. Dua abad berikutnya muncullah as-Suhrawardi al-Maqtul dengan pandangan Isyraqynya, disusul Muhammad bin Abu Bakr Ibrahim bin Abi Ya’kub Ishak al-Aththar (w. 621 H), memperkenalkan teori Al-Ittihad. Hampir boleh diskatakan bahawa puncak prestasi dari Tasawuf falsafy itu pada Ibnu Araby.

Abdurrahman as-Sulamy (W. 412 H) dalam kitabnya Thabaqatus Shufiyah, membagi generasi Sufi menjadi lima masa hingga peridodenya. Kitab Thabaqatus Shufiyah tersebut sangat berperan besar dalam menyatukan visi besar kaum Shui, mengingat ucapan-ucapan para tokoh Shufi dikutip di sana, bahkan dengan sejumlah landasan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebelumnya Ulama dan Sufi besar ini menulis buku yang cukup bagus pula, Tarikhus Shufiyah. Sebelumnya para Ulama Shufi juga menulis, walaupun tidak sekomprehensif As-Sulamy, beberapa kitab tentang sejarah dan biografi para Sufi. Antara lain:

Thabaqatun Nusaak, karya Abu Sa’id Ibnul A’raby (W. 341 H) yang sering dibuat rujukan utama oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’.
Akhbarush-Shufiyah waz-Zuhad, tulisan Muhammad bin Dawud bin Sulaiman, yang populer dengan Abu Bakr an-Naysabury (W. 342 H.)
Tarikhush-Shufiyah , karya Ahmad bin Muhammad bin Zakaria an-Nasawy az-Zahid (W. 396 H).

As-Sulamy dalam Thabaqat, merinci sejumlah nama besar dari seluruh masa itu, dengan lima generasi. Generasi ini menurut As-Sulamy adalah generasi terbaik, yang meletakkan dasar-dasar utama Sufi, dan masuk dalam katergori sabda Rasulullah saw:
“Sebaik-baik ummat manusia adalah generasi abadku, kemudian generasi abad yang berikutnya, lalu generasi abad berikutnya…” (H.r. Bukhari)

Generasi inilah yang juga pernah diprediksi oleh Rasulullah saw, dalam sabdanya: “Ummatku senantiasa ada empat puluh orang, berperilaku dengan budi pekeri Ibrahim Al-Khalil Alaihissalam, manakala ada suatu perkara datang, mereka diserahi.”

Generasi pertama sampai generasi kelima, berjumlah 100 tokoh Sufi, masing-masing generasi terdiri 20 tokoh:

Generasi pertama :
Al-Fudhail bin ‘Iyadh; Dzun Nuun al-Mishry; Ibrahim bin Adham; Bisyr Al-Hafy; Sary as-Saqathy; Al-Harits al-Muhasiby; Syaqiq al-Balkhy; Abu Yazid al-Bisthamy; Abu Sulaiman ad-Darany; Ma’ruf Al-Karkhy; Hatim al-Asham; Ahmad bin Abil Hawary; Ahmad bin Hadhrawiyah; Yahya bin Mu’adz ar-Razy; Abu Hafsh an-Naysabury; Hamdun al-Qashshar; Manshur bin Ammar; Ahmad bin Ashim al-Anthaky; Abdullah bin Khubaiq al-Anthaky dan Abu Turab an-Nakhsyaby.

Generasi Kedua :
Abul Qasim al-Junaid; Abul Husayn an-Nuury; Abu Utsman al-Hiry an-Naysabury; Abu Abdullah ibnul Jalla’; Ruwaim bin Ahmad al-Baghdady; Yusuf bin ibnul Husain ar-Razy; Syah al-Kirmany; Samnun bin Hamzah al-Muhibb; Amr bin Utsman al-Makky; Sahl bin Abdullah at-Tustary; Muhammad bin Fadhl al-Balkhy; Muhammad bin Ali at-Turmudzy; Abu Bakr al-Warraq; Abu Sa’id al-Kharraz; Ali bin Sahl al-Asbahany; Abul Abbas bin Masruq ath-Thusy; Abu Abdullah al-Maghriby; Abu Ali az-Juzajany; Muhammad dan Ahmad, keduanya putra Abul Ward; Abu Abdullah As-Sijzy.

Generasi Ketiga :
Abu Muhammad al-Jurairy; Abul Abbas bin Atha’ al-Adamy; Mahfud bin Mahmud an-Naisabury; Thahir al-Muqaddasy; Abu Amr ad-Dimasyqy; Abu Bakr bin Hamid At-Turmudzy; Abu Ishaq Ibrahim al-Khawash; Abdullah bin Muhammad al-Kharraz ar-Razy; Bunan bin Muhammad al-Jamal; Abu Hamzah al-Baghdady al-Bazzaz; Abul Husayn al-Warraq an-Naisabury; Abu Bakr Al-Wasithy; Al-Husayn bin Mashur al-Hallaj; Abul Husayn bin as-Shaigh ad-Dainury; Mumsyadz ad-Dinawary; Ibrahim al-Qashshar; Khairun Nasaj; Abu Hamzah al-Khurasany; Abu Abdullah ash-Shubaihy; Abu Ja’far bin Sinan.

Generasi Keempat :
Abu Bakr asy-Syibly; Abu Muhammad al-Murtaisy; Abu Ali ar-Rudzbary; Abu Ali Ats-Tsaqafy; Abdullah bin Muhammad bin Manazil; Abul Khair al-Aqtha’ at-Tinaty; Abu Bakr al-Kattany; Abu Ya’qub an-Nahrajury; Abul Hasan al-Muzayyin; Abu Ali ibnul Katib; Abul Husayn bin Banan; Abu Bakr bin Thohir al-Abhury; Mudzaffar al-Qurmisainy; Abu Bakr bin Yazdaniyar; Abu Ishaq Ibrahim ibnul Maulid; Abu Abdullah bin Salim al-Bashry; Muhammad bin Alyan an-Nasawy; Abu Bakr bin Abi Sa’dan.

Generasi Kelima :
Abu Sa’id ibnul A’raby; Abu Amr az-Zujajy; Ja’far bin Muhammad al-Khuldy; Abul Abbas al-Qasim as-Sayyary; Abu Bakr Muhammad bin Dawud ad-Duqqy; Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad asy-Sya’’any; Abu Amr Ismail bin Nujaid; Abul Hasan Ali bin Ahmad Al-Busyanjy; Abu Abdullah Muhammad bin Khafif; Bundar ibnul Husayn as-Syirazy; Abu Bakr ath-Thimistany; Abul Abbas Ahmad bin Muhammad ad-Dainury; Abu Utsman Said bin Salam al-Maghriby; Abul Qasim Ibrahim bin Muhammad an-Nashruabadzy; Abul Hasan Ali bin Ibrahim al-Hushry; Abu Abdullah at-Targhundy; Abu Abdullah ar-Rudzbary; Abul Hasan Ali bin Bundar ash-Shairafy; Abu Bakr Muhammad bin Ahmad asy-Syabahy; Abu Bakr Muhammad bin Ahmad al-Farra’; Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Muqry’ dan Abul Qasim Ja’far bin Ahmad al-Muqri’; Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad ar-Rasy; Abu Abdullah Muhammad bin Abdul Khaliq ad-Dinawary.

Setelah masa As-Sulamy muncul beberapa Sufi seperti Abul Qasim al-Qusyairy, disusul prestasi puncak pada Abu Hamid Al-Ghazali ( yang bergelar Hujjatul Islam), kemudian Syeikh Abdul Qadir al-Jilany, Ibul Araby, dan Sultanul Auliya Syeikh Abul Hasan- Asyadzily.

Dari seluruh tokoh sufi di atas, melahirkan banyak mazhab Tasawuf yang kelak muncul dalam cara-cara Thariqat. Semula arti Thariqat itu sendiri adalah metode atau sistem. Berikutnya Thariqat melibatkan komunitas sufistik yang tergabung dalam cara tersebut, sehingga menjadi semacam organisasi spiritual Islam.

Sumber : jalansufi.com

ReadMore......